Showing posts with label self-management. Show all posts
Showing posts with label self-management. Show all posts

Multitasker Person & To GOD.Com

This is an illustration.... and ooo.... How true it is....

I'm a master multi-tasker.
I eat breakfast while I drive.
Even make calls while I'm steering.
In one hour, I work five.
I check scores while sending e-mail.
It's called working while you play.
I can exercise while reading.
And I worry while I pray.

I can shave while I am showering.
I watch news while getting dressed.
I drink coffee walking Fido.
Maybe that's why I am stressed.
Doing just one thing seems lazy.
There's so much that must get done.
So I'm dreaming while I'm working how to sleep while on the run.


Copyright 2005 by Greg Asimakoupoulos, Mercer Island, WA Rhymes 'n Reasons/The Partial Observer

It's a funny pray yet meaningful....

Dear Lord,

Every single evening As I'm lying here in bed,
This tiny little Prayer Keeps running through my head:
God bless all my family Wherever they may be,
Keep them warm and safe from harm For they're so close to me.
And God, there is one more thingI wish that you could do; Hope you don't mind me asking,
Please bless my computer too.

Now I know that it's unusual To Bless a motherboard,
But listen just a second While I explain it to you, Lord.
You see, that little metal box Holds more than odds and ends;
Inside those small compartments Rest so many of my friends.
I know so much about them By the kindness that they give,
And this little scrap of metal Takes me in to where they live.

By faith is how I know them Much the same as you
We share in what life brings us And from that our friendships grew.
Please take an extra minute From your duties up above,
To bless those in my address book That's filled with so much love.
Wherever else this prayer may reach To each and every friend,
Bless each e-mail inboxAnd each person who hits "send".
When you update your Heavenly list On your own Great CD-ROM,
Bless everyone who says this prayer Sent up to GOD.com





Amen





Working Spirit


Teman saya, pemilik dua perusahaan besar, mengeluh dan mempertanyakan mengapa spirit di dua perusahaannya sangat berbeda.

Perusahaan pertama usianya 51 tahun, sementara yang kedua tidak lebih dari 10 tahun. Perusahaan yang lebih "dewasa" dan sudah berkembang baik, sulit dikatakan punya spirit yang segar.

Karyawannya pulang "teng-go" (tepat jam 5 sore) bersikap hati-hati dan cenderung "cari aman". Sementara, begitu memasuki perusahaan yang lebih "muda", terasa dinamika dan semangat, seolah suasana yang kita alami ketika bergadang di ruang senat mahasiswa, mengerjakan proyek organisasi. Yang jelas, memasuki dua lingkungan kerja yang berbeda ini, "mood" kita langsung beda, padahal lokasinya di gedung yang sama, hanya berbeda lantai.


Kita lihat bahwa spirit ada di udara, mudah terasa dan tercium. Bagi sebagian orang, spirit tidak sulit diciptakan. Terkadang hanya perlu "dipancing" dengan gorengan di sore hari atau kebersamaan saat lembur sampai pagi. Namun, di beberapa organisasi tertentu, terasa bahwa spirit ini sulit dikembalikan, walaupun sudah "diangkat" dan "ditarik-tarik" .


Organisasi yang penuh birokrasi, misalnya, sering membuahkan karyawan yang terlalu berhati-hati, "cari selamat", terlalu berhitung, takut berubah, hanya menunggu ide untuk berubah dari orang lain, dan enggan mengeluarkan ide baru. Tidak ada dinamika, kewaspadaan dan kenikmatan untuk berinisiatif lagi. Bila kita terjebak berada dalam organisasi seperti ini, namun secara pribadi memiliki spirit yang kuat, kita tentunya bertanya-tanya, apakah saya nanti tidak aneh sendiri? Bukankah spirit itu bersumber dari suasana kerja tim? Akankah kita bisa mempertahankan spirit yang segar dari waktu ke waktu? Bagaimana menyuntikkan spirit ke dalam diri sendiri, bahkan sampai memengaruhi organisasi?

Ingat Umur!

Bila kita sudah kehilangan spirit bekerja, ingatlah umur. Bayangkan profesional seperti Martha Tilaar, yang berusia 70 tahun, tetapi, semangatnya serasa 30 tahun. Beliau mengisi kehjdupan kariernya dengan `passion" dan urgensi. Berapa usia kita sekarang? Masih berapa tahunkah kita harus berproduksi? Bila sekarang saja semangat kita sudah kempis, bagaimana kita akan giat berkarya pada tahun-tahun mendatang?

Hati-hati dengan "Menerimà Apa Adanya"

Bayangkan sebuah rapat yang "garing", tidak bersemangat, di mana kebanyakan orang tidak mempunyai persiapan materi yang menantang, hanya menjawab bila ditanya atasan, tidak mempunyai ide dan pasrah menjalankan kehidupan perusahaan apa adanya Saat seseorang mengemukakan ide berbeda, semua pandangan menghujam padanya. Dan, si kreatif ini bisa-bisa kemudian meragukan idenya. Kita lihat bahwa sikap "menerima apa adanya bisa mematikan spirit sehingga perlu juga diwaspadai dan diperangi.

Pandanglah ke Depan

Bukan saja entrepreneur seperti Henry Ford (Ford Motor Comp), Bill Gates (Microsoft Corp.), Larry Page dan Sergey Brin (Google) yang mempunyai kemampuan untuk memandang ke depan, kita pun bisa! Kita selalu bisa melakukan "benchmark" ke perusahaan yang mempunyai aspek yang bisa ditiru. Kita pun selalu bisa mempunyai obsesi untuk meningkatkan produktivitas kita sebagai individu, kelompok atau bahkan perusahaan.

Bacaan-bacaan mengenai "best practice? profesi dan perusahaan serupa tidak terbatas jumlahnya. Dari sini kita bisa menumbuhkan mood untuk maju, mentransfer dan merealisasikan ide dan berobsesi untuk lebih sukses.

Bertanyalah, "Bagaimana Caranya?"

Bisnis dan situasi negara kita sëkarang membutuhkan produk baru, cara dan metode produksi, pasar baru, kecepatan, transfer kekuatan, dan informasi. Bagaimana mungkin kita tinggal diam dan menunggu?

Kita bisa mengaktifkan otak dan selalu mencari cara baru. Seberapa pun kecil peranan kita di perusahaan, bantulah untuk memikirkan "improvement" , karena hal ini pasti akan berguna bagi
perusahaan, tim dan diri Anda sendiri. Selain itu kekuatan spirit Anda akan terasa oleh atasan. Dengan demikian kita secara tidak langsung membuat harapan baru bagi diri sendiri setiap saat dan terbiasa menanggulangi ancaman.

Kembangkan mindset "Memulai"

Menjadi orang yang pertama maju ke depan memimpin diskusi, memberi
tanggapan atas email kolega, mengirimkan notulen rapat ke pelanggan yang baru dikunjungi, sama sekali tidak sulit! Dampaknya terhadap
diri sendiri-lah yang lebih besar. Kita akan mendapatkan apresiasi
orang lain, dipandang sebagai orang yang gesit. Bayangkan kalau kita
selalu menjadi orang yang pertama menyapa "halo" di setiap kontak
dengan orang lain. Kita pasti akan menebar semangat. Dan, untuk diri
sendiri, kita akan menumbuhkan semangat ekstra sebagai pemulai dan
penyerang tidak sekedar responsif.

Cintai Teknologi

Pemrosesan data, jaringan internet, telekomunikasi tidak pernah bisa
kita hindari. Teknologi juga berkembang demikian pesat sehingga sulit diikuti. Rasanya baru beberapa tahun saja kita menikmati teknologi GPRS, CDMA. Sekarang, kalau tidak ber-3G-ria, rasanya kuno. Baru saja, kita menikmati "i-pod", sekarang kita perlu bersiap siap memahami "i-phone'. Bila kita sedikit berusaha untuk menyukai dan memperdalam teknologi, kita secara tidak langsung terpaksa mengadaptasi derap inovasi dan perubahan dari perkembangan teknologi.


Menjaga agar tetap ber-spirit ibarat menjalankan dinamika kehidupan
seorang artis; seorang artis tidak pernah berhenti memerhatikan, berpikir, mengembangkan ide, bereksperimen, mencari ide baru, antusias, bekerja tak kenal waktu dan berupaya menciptakan sesuatu yang unik dan baru. Jadilah orang yang senantiasa hidup dengan spirit. Hidup akan terasa lebih artistik. ***

Sumber: Spirit oleh Eileen Rachman, EXPERD

Is He an Inspiring Businessman? Warren Buffet.


His Famous Quote :

“Rule No.1: Never lose money. Rule No.2: Never forget rule No.1.”

Quotable Quote:

“Risk comes from not knowing what you're doing.”
“Wide diversification is only required when investors do not understand what they are doing.”
“I always knew I was going to be rich. I don't think I ever doubted it for a minute.”


[There was a one hour interview on CNBC with Warren Buffet, the second
richest man who has donated $31 billion to charity. Here are some very
interesting aspects of his life:

1. He bought his first share at age 11 and he now regrets that he started too late!
2. He bought a small farm at age 14 with savings from delivering newspapers.
3. He still lives in the same small 3-bedroom house in mid-town Omaha ,
that he bought after he got married 50 years ago. He says that he has
everything he needs in that house. His house does not have a wall or a fence.
4. He drives his own car everywhere and does not have a driver or security
people around him.
5. He never travels by private jet, although he owns the world's largest
private jet company.
6. His company, Berkshire Hathaway, owns 63 companies.
He writes only one letter each year to the CEOs of these companies,
giving them goals
for the year. He never holds meetings or calls them on a regular basis.
He has given his CEO's only two rules. Rule number 1: do not lose any
of your share holder's money. Rule number 2: Do not forget rule number 1.

7. He does not socialize with the high society crowd. His past time
after he gets home is to make himself some pop corn and watch Television.

8. Bill Gates, the world's richest man met him for the first time only
5 years ago. Bill Gates did not think he had anything in common with
Warren Buffet. So he had scheduled his meeting only for half hour. But
when Gates met him, the meeting lasted for ten hours and Bill Gates
became a devotee of Warren Buffet.
9. Warren Buffet does not carry a cell phone, nor has a computer on his desk.

His advice to young people: "Stay away from credit cards and invest in yourself and Remember:
A. Money doesn't create man but it is the man who created money.
B. Live your life as simple as you are.
C. Don't do what others say, just listen them, but do what you feel good.
D. Don't go on brand name; just wear those things in which u feel comfortable.
E. Don't waste your money on unnecessary things; just spend on them who really in need rather.
F. After all it's your life then why give chance to others to rule our life."

only you can make yourself happy or unhappy


The softer your heart the easier you can handle your sorrow.
human being is not free from sorrow, from troubles.
yet, human being is constructed with special function to detect
what make him/her happy or sad.
Make a best detector and response.

Seorang guru sufi mendatangi seorang muridnya ketika wajahnya
belakangan ini selalu tampak murung.

"Kenapa kau selalu murung, nak? Bukankah banyak hal yang indah di
dunia ini? Ke mana perginya wajah bersyukurmu? " sang Guru bertanya.

"Guru, belakangan ini hidup saya penuh masalah. Sulit bagi saya untuk
tersenyum. Masalah datang seperti tak ada habis-habisnya, " jawab sang
murid muda.

Sang Guru terkekeh. "Nak, ambil segelas air dan dua genggam garam.
Bawalah kemari. Biar kuperbaiki suasana hatimu itu."
Si murid pun beranjak pelan tanpa semangat. Ia laksanakan permintaan
gurunya itu, lalu kembali lagi membawa gelas dan garam sebagaimana
yang diminta.

"Coba ambil segenggam garam, dan masukkan ke segelas air itu," kata
Sang Guru. "Setelah itu coba kau minum airnya sedikit."
Si murid pun melakukannya. Wajahnya kini meringis karena meminum air
asin.

"Bagaimana rasanya?" tanya Sang Guru.

"Asin, dan perutku jadi mual," jawab si murid dengan wajah yang masih
meringis.

Sang Guru terkekeh-kekeh melihat wajah muridnya yang meringis
keasinan.

"Sekarang kau ikut aku." Sang Guru membawa muridnya ke danau di dekat
tempat mereka. "Ambil garam yang tersisa, dan tebarkan ke danau."
Si murid menebarkan segenggam garam yang tersisa ke danau, tanpa
bicara. Rasa asin di mulutnya belum hilang. Ia ingin meludahkan rasa
asin dari mulutnya, tapi tak dilakukannya. Rasanya tak sopan meludah
di hadapan mursyid, begitu pikirnya.

"Sekarang, coba kau minum air danau itu," kata Sang Guru sambil
mencari batu yang cukup datar untuk didudukinya, tepat di pinggir
danau.

Si murid menangkupkan kedua tangannya, mengambil air danau, dan
membawanya ke mulutnya lalu meneguknya. Ketika air danau yang dingin
dan segar mengalir di tenggorokannya, Sang Guru bertanya
kepadanya, "Bagaimana rasanya?"

"Segar, segar sekali," kata si murid sambil mengelap bibirnya dengan
punggung tangannya. Tentu saja, danau ini berasal dari aliran sumber
air di atas sana . Dan airnya mengalir menjadi sungai kecil di bawah.
Dan sudah pasti, air danau ini juga menghilangkan rasa asin yang
tersisa di mulutnya.

"Terasakah rasa garam yang kau tebarkan tadi?"

"Tidak sama sekali," kata si murid sambil mengambil air dan
meminumnya lagi. Sang Guru hanya tersenyum memperhatikannya,
membiarkan muridnya itu meminum air danau sampai puas.

"Nak," kata Sang Guru setelah muridnya selesai minum. "Segala masalah
dalam hidup itu seperti segenggam garam. Tidak kurang, tidak lebih.
Hanya segenggam garam. Banyaknya masalah dan penderitaan yang harus
kau alami sepanjang kehidupanmu itu sudah dikadar oleh Allah, sesuai
untuk dirimu. Jumlahnya tetap, segitu-segitu saja, tidak berkurang
dan tidak bertambah. Setiap manusia yang lahir ke dunia ini pun
demikian. Tidak ada satu pun manusia, walaupun dia seorang Nabi, yang
bebas dari penderitaan dan masalah."

Si murid terdiam, mendengarkan.

"Tapi Nak, rasa `asin' dari penderitaan yang dialami itu sangat
tergantung dari besarnya 'qalbu'(hati) yang menampungnya. Jadi Nak,
supaya tidak merasa menderita, berhentilah jadi gelas. Jadikan qalbu
dalam dadamu itu jadi sebesar danau."

Kekuatan atau Kelemahan?



Seringkali, kita gagal sebelum memulai.
Tidak memulai sesuatu karena pikiran untuk maju
terikat oleh belenggu pikiran yang melemahkan.

Pikiran yg melemahkan seperti, 'saya tidak punya modal cukup,
saya tidak cukup ilmu, saya tidak punya waktu',
saya tidak sepandai dia, dll' yang menghambat kemajuan.
Pikiran yg menguatkan ingat cita2 kita dan jangan pikirkan kelemahan kita.
Hitung dan atur yang kita punya, dan jangan hitung dan atur
yang tidak kita punya.


Penulis tidak diketahui, Bits & Pieces, August 15, 1996,
Economic Press Inc


Kadang kelemahan kita bisa menjadi kekuatan terbesar kita. Ambil
contoh kisah seorang bocah 10 tahun yang memutuskan untuk
mempelajari judo walaupun ia telah kehilangan lengan kirinya
dalam sebuah kecelakaan mobil.

Sang bocah belajar dari seorang guru judo Jepang. Bocah ini
benar-benar belajar dengan baik, sehingga ia sendiri tidak
paham, kenapa setelah tiga bulan latihan, sang guru hanya
mengajarkannya satu gerakan.

"Sensei!"akhirnya sang bocah bertanya, "Bukankah saya
seharusnya sudah belajar gerakan lainnya?"

"Ini adalah satu-satunya gerakan yang kamu tahu, tapi ini juga
satu-satunya gerakan yang perlu kamu ketahui", jawab sang Sensei.

Walau tidak begitu memahami, tapi tetap percaya pada gurunya,
bocah ini tetap berlatih dan berlatih.

Beberapa bulan kemudian, sang sensei mengantarkan sang bocah ke
turnamen pertamanya. Terkejut pada kemampuannya sendiri, sang
bocah dengan mudah memenangkan dua pertarungan pertamanya.
Pertarungan ketiga lebih sulit, tapi setelah beberapa saat,
lawannya kehilangan kesabaran dan menyerang, sang bocah dengan
piawai menggunakan satu gerakannya untuk memenangkan
pertarungan. Masih heran dengan kemenangannya, sang bocah masuk
final.

Kali ini, lawannya lebih besar, lebih kuat, dan lebih
berpengalaman. Untuk beberapa saat sang bocah terlihat tidak
sepadan dibanding lawannya. Karena kuatir sang bocah bisa
cedera, wasit menyerukan time-out. Ia bermaksud menghentikan
pertarungan saat sang sensei menginterupsinya.

"Tidak!"interupsi sang sensei, Biarkan ia melanjutkan."

Segera setelah pertarungan dilanjutkan, lawannya membuat
kesalahan kritikal: ia lalai dalam pertahanannya. Secara cepat
sang bocah menggunakan satu gerakan untuk menguncinya. Sang
bocah memenangkan pertarungan dan kejuaraan. Ialah sang
juaranya.

Dalam perjalanan kembali ke rumah, sang bocah dan senseinya
mempelajari kembali setiap gerakan di pertarungan hari itu. Lalu
sang bocah berani menanyakan yang terus dipikirkannya.

"Sensei, bagaimana saya bisa memenangkan kejuaraan hanya dengan
satu gerakan?"

"Kamu menang karena dua alasan!" jawab sang sensei. "Pertama,
kamu hampir memahiri salah satu bantingan tersulit dari semua
gerakan di judo. Kedua, satu-satunya pertahanan yang telah
diketahui terhadap gerakan itu adalah jika lawan kamu menangkap
lengan kiri kamu"

Kelemahan sang bocah telah menjadi kekuatan terbesarnya.

Kualitas yang sama dgn Overseas MBA?


I found it so inspiring from a websurfing after lunch time.
http://wishnuiriyanto.blogspot.com/2007/01/mba.html

Thanks to Pak Wishnu.

Btw, the picture on the left shows courage, bravery.

MBA

Wishnu Iriyanto

Ada satu anggapan yang diterima oleh banyak orang bahwa mereka yang datang dengan gelar akademik lebih tinggi, misalnya MBA dari universitas ternama di luar negeri berpeluang jauh lebih tinggi untuk bisa berhasil dalam bisnis nya dibanding mereka yang datang dengan kualifikasi lebih rendah dan bersifat lokal.

Saya percaya bahwa dengan memiliki suatu kualifikasi extra, seseorang akan memilki keunggulan tertentu dalam berbisnis dibanding yang tidak memilikinya tapi kalau ditanya apakah itu akan membuat dia menjadi “sulit dikejar” oleh lulusan lokal dalam permainan bisnis jangka panjang, Saya akan jelas jelas menolak pendapat ini.

Alasan saya tiba tiba masuk ke topik ini sebetulnya karena beberapa hari lalu saya ngobrol dengan seorang teman lewat MSN. Setelah ngalor-ngidul ke area area yang tidak jelas, tiba tiba saya bertanya; bagaimana kabarnya bisnis mu? Dia kebetulan berbisnis makanan. Jawaban dia sangat menyedihkan saya, dia bilang; ”saya kelihatannya akan memutuskan untuk mundur dari bisnis ini, karena persaingannya terlalu berat. Bayangkan untuk bisnis dengan skala seperti ini saja, pesaing saya banyak yang title nya MBA luar negeri. Belum lagi modalnya besar besar. Saya seperti berhadapan dengan raksasa, jadi sebelum saya “tenggelam” lebih dalam, mending saya keluar dengan bawa sisa modal yang tersisa”. Dia bilang lagi ”saya akan coba cari bisnis yang pesaingnya tidak terlalu berat saja.”

Kalau saya analisa secara cepat saja, teman saya ini kehilangan gairah, motivasi, dan nyali nya ketika berhadapan dengan pesaing pesaing yang dianggap lebih pintar dan bermodal.

Saya berpendapat, ini mungkin terjadi di banyak kasus dan dengan skala ketakutan yang berbeda beda. Dan menurut saya ketakutan itu bersifat menghancurkan semangat dan motivasi yang mana merupakan modal terpenting setiap orang untuk bisa berhasil.

Dalam tulisan saya yang sekarang ini, saya hanya akan memfokuskan pada latar belakang pendidikan, soal modal dan unsur ketakutan, saya harap saya bisa bahas di kesempatan yang berbeda.

Sepanjang saya bekerja dengan university di 10 negara (Australia, New Zealand, Singapore, Malaysia, china, USA, UK, German, Swiss, dan Canada) saya menemukan bahwa rata rata MBA itu terdiri atas 12 – 16 unit pelajaran.

KAlau di Australia dimana kebetulan saya juga pernah bersekolah MBA, rata rata university disini menjalankan MBA nya berdasarkan 12 unit subject.


Sejauh pelajaran diajarkan di university saya, tiap unit rata rata memiliki 2 buku pegangan utama dan rata rata 5 buku pendamping.

Jadi, kesimpulaannya adalah, bila seseorang mentok dibiaya, tapi bila mendisiplinkan diri untuk belajar dan menguasai min 7 buku, dia sebetulnya secara informal, sudah menguasai unit itu. Nah kalau dia cukup mendisiplinkan diri dengan membaca 84 (12x7) buku pegangan wajib dan pegangan pendamping program MBA di university, walau dia nggak punya gelar resmi, dia tidak kalah dan tidak perlu minder terhadap lulusan MBA setidaknya dari Australia.


Saya percaya sekali akan keberhasilan konsep alternatif seperti ini. Bahkan kalau mau lihat lebih dalam lagi, sebagian dari mereka yang belajar MBA, sebetulnya tidak benar benar menjiwai sekali bidang ini, mereka hanya ambil karena alasan gengsi dan koleksi gelar (agar nanti karir professional mereka bisa “menang start” dibanding yang tidak punya gelar yang sama).

Tentu saja banyak juga diantara mereka yang benar benar berjuang dan diperlengkapi dengan tujuan yang benar yaitu menguasai ilmu itu secara utuh, tapi kalau hanya dibandingkan dengan yang bertujuan gengsi dan koleksi gelar (mungkin mereka tidak sadari tujuan ini – tapi hasil akhir sekolah, yaitu dengan melihat penguasaan materi secara keseluruhan, memperlihatkan kesimpulan itu), mereka yang baca dan belajar bukunya secara otodidak, lulusan lokal sama sekali tidak perlu minder, apalagi takut bila harus bersaing dengan mereka.

Sebagaimana pengalaman-pengalaman pribadi saya di masa lalu selaku pemilik usaha dari organisasi beranggotakan sekitar 50 orang, dimana saya mengamati orang yang pernah singgah di organisasi kami dan memberikan pelayanannya untuk saya dan organisasi, saya menyimpulkan bahwa keberhasilan itu lebih dipengaruhi banyak sekali oleh faktor karakter (seperti teachable, rendah hati, punya sikap hati yang benar untuk dipimpin, setia dll) serta mental menang dibanding tingkat pendidikan dan reputasi university darimana dia berasal.

Mungkin ada pembaca yang lagi lagi bosan kalau tulisan saya banyak kembali ke faktor karakter sebagai pendukung keberhasilan, tapi memang sebetulnya itu lah yang memang saya temukan dari pengamatan pribadi saya. (yang tentu saja rekan lain boleh disagree karena pengalaman rekan yang berbeda dengan saya)

Misalnya dalam contoh di organisasi saya:

Pada suatu waktu, adik saya membawa teman pelayanan di gerejanya yang kebetulan hanya lulusan smu untuk mendaftar sebagai pegawai untuk posisi asisten bagi salah satu konsultan sekolah ke luar negeri kami. Secara umum, konsultan konsultan kami adalah lulusan luar negeri dan asisten asisten mereka merupakan setidaknya lulusan s1 lokal (kadang malah ada yang lulusan luar negeri juga).

Karena adik kandung saya yang memperkenalkan, saya memperhatikan dengan sedikit lebih serius. Calon pegawai ini latar belakang pendidikannya adalah SMU dan selama beberapa tahun terakhir bekerja sebagai marketing perusahaan mebel di PLUIT.

Anggapan saya saat itu, dia sebetulnya tidak qualified untuk bekerja di organisasi kami, tapi karena sudah diperkenalkan secara langsung, saya harus menemukan cara untuk menolaknya secara halus.

Akhirnya saya ada ide, saya minta calon pegawai baru ini untuk membaca 7 buku (yang saya pilihkan sendiri, dengan rata rata 180 an halaman dengan topic topic marketing praktis, management, motivasi, leadership dll) selama 7 hari kedepan. Nanti sesudahnya akan saya test, kalau saya puas dia sudah membaca dan menguasai nya secara memadai, saya akan kasih buku berbeda dalam jumlah yang sama dan dalam waktu yang sama yaitu 7 buku selama 7 hari. Ini akan berlanjut sampai dengan 3 putaran. Jadi jumlahnya adalah 21 buku untuk 21 hari. Terakhir, saya yang akan putuskan apakah akan diterima atau tidak berdasarkan kemampuan dia untuk menguasai apa yang saya berikan.

Tadinya saya pikir test jenis ini akan menakutkan dia, ternyata dia dengan bersemangat menerima jenis test kerja yang tidak umum ini.

Sebagai bayangan, sambil dia lakukan test itu, dia masih bekerja di pluit sementara dia tinggal di TG priok yang waktu tempuh naik kendaraan umumnya sekitar 90 – 120 menit diperjalanan. Jadi bisa dibayangkan kalau sebetulnya dia nggak punya waktu banyak untuk baca.

Hari ke 6, di telp saya untuk janjian ketemu besoknya untuk minta di test, padahal saya sendiri aja sudah lupa soal itu, karena saya tidak benar benar berpikir anak ini akan betul betul konsisten dengan janji membacanya.

HAri ke 7, test berjalan memuaskan, dia benar benar membaca seluruh buku. Sampai pada tahap ini, saya cukup surprise dengan kemauan nya untuk menang. Untuk ukuran orang yang dimasa lalu jarang baca buku dan sementara kerja full time ditempat yang jauh, saya masih bertanya tanya bagaimana dia me-manage hal ini yaitu bekerja dan baca buku dalam jumlah lumayan banyak serta dalam periode waktu yang sempit.

Hari ke 13, saya di telp lagi, Cuma sekarang yang telp adik saya. Dia bilang kalau temannya ini sekarang di rumah sakit. Dia pingsan mendadak. Saya luarbiasa kaget, dan saya tanya kenapa, adik saya bilang dia kurang tidur karena baca buku yang saya berikan.

Ketika saya mau jenguk, dia bilang nanti aja jenguk dirumah nya langsung, karena nggak lama lagi mereka diijinkan dokter untuk langsung pulang tanpa perlu dirawat dirumah sakit.

Belakangan saya tahu kalau ternyata itu pingsannya yang ke 3 kali dalam 12 hari kebelakang. Saya luarbiasa merasa berdosa saat itu. Saya tidak mengira kalau akibat test diluar system normal seperti itu membuat anak ini pingsan berulang ulang.

Tapi pada saat yang sama, saya menyadari ada kekuatan luarbiasa dalam diri anak ini, dia memiliki kemauan menang dan setidaknya satu bagian dari karakter yaitu teachable (bisa/mau diajar), ada pada dirinya diatas dosis normal.

Saya gembira sekali dengan penemuan saya ini, karena tidak banyak orang yang akan mencoba batas ketahanan tubuhnya sendiri demi memenuhi target yang sebetulnya saya sadari kurang realistis dari sisi waktu.

Pada akhir cerita, anak ini jadi pegawai ditempat kita, militansi kerja nya sangat mengagumkan, dan dia bukan hanya akhirnya jadi konsultan ditempat kita, tapi malah menduduki posisi pemimpin di salah satu cabang kami di Jakarta.

Yang hebatnya, di kantor cabang yang dipimpinnya, tanpa fasilitas yang cukup, dia mampu merubah kantor yang penjualannya merosot (walau dipegang lulusan luar negeri selama 2x berturut turut) menjadi posisi positif. Mental menang nya membuat dia yang cuma lulusan SMU bisa berdiri sejajar dengan konsultan lain yang lulusan luar negeri.

Walaupun dalam jangka pendek mereka yang memiliki gelar gelar yang kelihatan wah, sepertinya “menang start”, tapi dalam perlombaaan jangka panjang, sebetulnya etos kerja, karakter, mental menang, motivasi pribadi yang kuat (hal hal yang benar benar dasar), dan mereka yang mampu menumbuhkan keahlian otodidak lah yang akan menang.

Bicara tentang otodidak, saya berpendapat kualitas generasi sekarang relative kalah dengan generasi jaman dahulu. Saya pernah dengar cerita kalau oma nya teman saya, belajar bahasa perancisnya cuma lewat nonton bioskop. Malah dia sengaja sembunyi agar bisa nonton film itu 4 kali berturut turut dengan cuma bayar sekali. Dan menurut saya, kualitas bahasa perancisnya sangat bagus sekali untuk kategori orang yang tdk pernah kursus, hanya belajar dari bioskop dan tidak pernah pergi ke perancis. Tambahan lagi, oma nya ini kenal hanya sedikit sekali orang perancis di Jakarta sebagai partner bicara.

Oma ini bilang, di jamannya, hal hal otodidak seperti ini, bukanlah hal istimewa bagi kalangan intelektual saat itu. Coba bandingkan dengan kalangan intelektual kita saat ini, berapa banyak yang memilki skill otodidak pada level yang sama dengan oma tadi?

Memang sampai saat ini fasilitas pemerintah terhadap pendidikan murah, perpustakaan berkualitas dan akses akses terhadap pendidikan alternative masih sangat kurang dibanding Negara Negara lain, tapi saya berpendapat kegagalan terbesar bangsa ini masih bukan di pendidikan, tapi di mental menang dan karakter yang baik yang seharusnya dimiliki secara nasional.

Maafkan saya untuk kalimat seperti itu, terutama bagi mereka yang memang tidak termasuk golongan kebanyakan.

Mungkin mau sharing sedikit, semenjak saya di Melbourne dalam rangka mengembangkan kantor cabang kecil kami, saya merasa visi saya dibuat makin jelas oleh Tuhan dari hari ke hari. Pada saat saat hening, saya merasa sepertinya panggilan saya adalah di penciptaan sekolah sekolah alternatif yang bersifat singkat, mampu menghasilkan orang orang dengan kualitas karakter yang memadai dan mental menang yang excellent serta memperlengkapi mereka dengan skill yang memadai (tidak harus bersifat akademik) yang pada akhirnya memungkinkan mereka untuk bertarung dengan kesulitan hidup.

Saya merasa beban panggilan terbesar saya justru ada pada anak anak, karena setiap kali saya membaca berita yang luarbiasa banyaknya anak anak yang akhirnya kehilangan potensi terbaik mereka karena kurangnya motivasi dan menghabiskan tahun tahun terbaik mereka hanya untuk bertahan hidup di jalanan dan tidak menyadari visi visi besar yang secara alami ada pada diri mereka masing masing, saya merasa hati saya menangis. Saya menjerit kepada Tuhan untuk mengirimkan seseorang untuk melakukan sesuatu atas situasi ini. Lingkaran setan kemiskinan dan kebodohan ini harus diputus bagaimanapun caranya.

Apabila ditanya apakah saya sudah mempunyai gambaran yang jelas mengenai ini, saya akan menjawab sama sekali tidak ada, tapi saya percaya Tuhan akan berikan itu pada waktunya dan saya percaya pada saatnya nanti Tuhan akan kirimkan orang orang terbaik dengan panggilan yang sama untuk kita bisa sama sama lakukan hal ini.

Di Australia ini, saya menyaksikan banyak sekali orang orang dengan etos kerja yang biasa biasa saja, tapi menikmati hidup yang layak, saya percaya Indonesia juga memilki puluhan juta pekerja dengan etos kerja yang tidak kalah kuatnya, tapi kenapa anak anak negeri ini harus menderita lapar, kekerasan fisik, harga diri yang rendah, hilangnya harapan sambil menyaksikan balita balita mereka kelaparan dan menangis karena kekurangan gizi.

Oleh karena itu tujuan dari rintisan pembuatan artikel artikel ini salah satunya adalah untuk men-draft-kan pemikiran pemikiran saya, agar suatu saat kelak bisa saya gunakan untuk merencanakan sesuatu yang berguna bagi visi dasar saya.

Sebetulnya saya berharap melalui bergabungnya saya di milis, saya bisa bertemu orang orang dengan skill, keterbebanan yang sama serta panggilan yang serupa utk kita bisa sama sama berpikir dan bertindak walau cuma dalam skala yang tidak besar tapi bisa mempengaruhi dampak masa depan anak anak.

Memang karena saya saat ini di Melbourne, tidak banyak yang saya bikin, tapi saya hanya berdoa semoga Tuhan terus pertajam visi, skill dan beban saya untuk bisa mematangkan konsep kasar yang saat ini saya percaya Tuhan sudah taruh di hati saya.

Saya percaya Tuhan memberkati dan membuka jalan bagi setiap pejuang yang bertekun hingga akhir dalam memenuhi panggilannya.

The 20 Qualities of an Educated Person




John Taylor Gatto, former New York City and New York State Teacher of the Year has compiled the following list that he calls "The 20 Qualities of an Educated Person." In compiling this list, Gatto reviewed the answers to questionnaires given to a number of Corporate Personnel Managers and College Admission Officers.
According to these two groups, an educated person will demonstrate:
1. A broadly knowledgeable mind
2. Self confidence
3. A life purpose
4. A touch of class
5. Good leadership skills
6. The ability to work with a team
7. Patience
8. Good public speaking skills
9. Good writing skills
10. Resourcefulness
11. A desire for responsibility
12. Honesty
13. A public spirit
14. The ability to work well alone
15. An eye for details
16. The ability to focus at will
17. Perseverance
18. The ability to handle pressure
19. Curiosity
20. An attractive personal style

(Do you notice how these have little to do with academic knowledge and skills, but a LOT to do with CHARACTER?)

Motivating

You are Never too Old to Study, to Learn, to Live

Another inspiring woman... Sitting on the front row in her college classes carefully taking notes, Nola Ochs is just as likely to answer que...